Program Peer Counseling, Pendampingan Kesehatan Jiwa Bagi Siswa di Sekolah
Program Kesehatan mental siswa pelajar berdampak pada kualitas hidup mereka secara keseluruhan, baik atau buruk. Ketika seorang siswa mengalami kesehatan mental yang baik, hal ini biasanya meningkatkan kesehatan fisik mereka, serta cara mereka memandang diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Pemerintah kabupaten Aceh Besar melalui Dinas Kesehatan menaruh perhatian khusus terkait Kesehatan jiwa kalangan muda, khsusnya peserta didik di sekolah. Program pendampingan Kesehatan jiwa di sekolah juga melibatkan siswa itu sendiri sebagai pendamping bagi temannya. Program ini disebut Peer Counseling, dimana keterlibatan remaja dalam kelompok teman sebaya memberikan masukan secara khusus bagi perkem-bangan kepribadian dan perkembangan sosial remaja sebaya.
Dinkes Aceh Besar melalui bidang P2, seksi PTM dan Kesehatan sempat melakukan kunjungan ke beberapa sekolah di Aceh Besar. kegiatan ini merupakan rangkaian kesehatan jiwa tingkat sekolah terintegrasi dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Selain ditujukan bagi siswa, pendidikan kesehatan jiwa juga ditujukan kepada pendidik dan tenaga kependidikan agar pendidik dan tenaga kependidikan mampu memahami perkembangan jiwa peserta didik sesuai kelompok usia anak yang dikaitkan dengan perkembangan fisik.

Dalam kunjungan kesekolah pihak Dinkes Aceh Besar turut menetapkan beberapa siswa sebagai Peer Counselor. Peer Counselor adalah rekan siswa yang akan menjadi tempat curhat dari sesama siswa lainya. Peer counseling dapat dilakukan di mana saja dan oleh siapa saja. Hal itu mematahkan anggapan bahwa akses akan perawatan mental hanya bisa dilakukan jika kita datang ke psikolog atau psikiater. Namun begitu, perlu diingat bahwa peer counseling pada dasarnya hanyalah pertolongan pertama bagi munculnya tanda-tanda gangguan mental. Jika gangguan terus berlanjut, maka anda tetap harus mendatangi psikolog atau psikiater, karena gangguan yang anda alami sudah memerlukan tindakan dari ahlinya (psikolog).
Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya akan diberikan pelatihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik.
Dalam kegiatan ini siswa juga berfungsi sebagai mediator yang bisa membantu konselor dengan cara memberikan informasi berupa kondisi, perkembangan, atau masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling. Adapun kriteria yang harus diterapkan kepada siswa yang akan menjadi seorang konseling teman sebaya adalah mereka yang mampu menjadi pendengar yang baik, mereka yang mampu menjadi seorang sahabat atau teman yang baik bagi mereka yang membutuhkan perhatian.
Kegiatan pendampingan melalui peranan teman sebaya dirasa cukup efektif. Kegiatan program konseling teman sebaya mempunyai alasan-alasan yang rasional, terstuktur, aktifitasnya spesifik, personal yang melakukannya juga khusus dan diorganisir secara terus menerus. Program ini merupakan usaha yang dapat mempengaruhi/memperbaiki tingkah laku yang dimiliki oleh siswa, yaitu tingkah laku yang dapat membedakan antara tingkah laku yang pantas dengan tidak pantas dan menggunakan tingkah laku yang pantas menjadi identitas pribadi yang diharapkan, serta menemukan berbagai cara pemecahkan masalah dan memberikan pengalaman yang akan memotivasi mengikuti pelatihan untuk pengembangan diri mereka untuk menjadi orang dewasa yang matang dan bertanggung jawab.
Perkembangan sosial pada masa remaja akan lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman. Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar. Pada diri remaja pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat, walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya.

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya. Kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman yang akan menjadi sumber informasi yaitu seperti mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya. Adapun manfaat dari konseling teman sebaya adalah untuk mengajar siswa-siswa dengan cara efektif, membantu kawan-kawannya untuk meringankan perasaan terisolir, dan kesepian di sekolah.
Disamping itu siswa yang akan menjadi konselor teman sebaya dapat berlatih untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi dengan cara yang rasional, positif dan bermoral. Keberadaan kelompok konselor teman sebaya ini diharapkan sangat penting ada disetiap sekolah, namun dengan adanya konseling sebaya ini, bukan berarti akan menghilangkan peran guru Bimbingan Konseling sebagai seorang konselor di sekolah, justru dengan adanya siswa yang bersedia menjadi seorang konselor teman sebaya pihak konselor akan sangat terbantu meskipun tetap pada awal pelatihan akan menguras waktu dan tenaga yang banyak. (Redaksi)
